Senin, 29 Maret 2021

Bisnis Kehutanan Tanamana Kaliandra Sebagai Kayu Energi

 

Makalah Mata kuliah Bisnis Kehutanan                                                                  Medan, 29 Maret 2021

BISNIS POHON KALIANDRA (Calliandra Calothyrsus)
SEBAGAI WOOD PELLET

Dosen Penanggung Jawab:

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh:

Maria Elfani Sitorus

181201073

MNH 6

 

 

 

 

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Bisnis Kehutanan ini dengan baik dan tepat waktu. Penulisan makalah ini ialah sebagai pemenuhan tugas Mata Kuliah Bisnis Kehutanan, di Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Makalah ini ialah berjudul “Bisnis Pohon Kaliandra (Calliandra calothyrsus) sebagai kayu Energi”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab Mata Kuliah Bisnis Kehutanan yaitu Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M. Si. yang telah memberikan materi dengan baik dan benar hingga selesainya penulisan makalah ini.

Penulis juga menyadari bahwa penulisan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan tugas-tugas selanjutnya.

 

 

Medan, 29 Maret 2021

 

 

                                   Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Prinsip pengelolaan hutan terkini adalah meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan dan kelestarian ekosistem. Pengelolaan hutan saat ini bukan hanya ditujukan agar hutan memberikan nilai guna langsung kepada banyak pihak namun pengelolaan hutan perlu melihat dan mempertimbangkan nilai lain dalam pengelolaannya. Langkah pertama untuk mewujudkan azas kelestarian hutan adalah pembentukan organisasi wilayah untuk mewadahi kegiatan pembangunan hutan, mengatur administrasi pekerjaan, dan melaksanakan seluruh aktifitas pengelolaan hutan secara efektif dan efisien (Heyadi et al., 2018).

Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator penting dalam mewujudkan stabilitas negara. Pertumbuhan ekonomi yang positif menjadi pertanda pengelolaan negara yang baik. Salah satu faktor penting yang menyumbangkan nilai positif dalam pertumbuhan ekonomi adalah kegiatan ekspor. Secara definisi, ekspor adalah kegiatan memperdagangkan produk dari suatu negara ke negara lain melewati batas wilayah kepabeanan dengan tujuan mendapatkan devisa yang dibutuhkan negara, menciptakan lapangan kerja, mendapatkan pemasukan bea keluar dan masuk, pajak, serta menjaga keseimbangan antara arus barang dan arus uang keluar yang beredar di dalam negeri (Fitriandi et al., 2020).

Sesungguhnya, kehadiran hutan tanaman yang diusahakan di Negara Indonesia secara komersiil dan untuk memenuhi kebutuhan industri sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Namun hutan tersebut belum disebut sebagai HTI. Hutan tanaman yang berada di Pulau Jawa yang dikelola oleh Perum Perhutani sesungguhnyalah merupakan wujud nyata dari HTI. Hutan jati diperkirakan sudah ditanam di Pulau Jawa sebelum orang Belanda datang di Pulau Jawa, tetapi hutan tanaman jati yang dikelola dalam suatu unit berskala besar seperti terlihat sekarang ini diperkirakan dimulai sekitar awal abad 19 (Soedomo dan Hariadi, 2011).

Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan terjadinya peningkatan industri yang diikuti dengan peningkatan kebutuhan energi. Pada masa sekarang, sebagian besar bahan bakar yang digunakan adalah fosil yang jumlahnya semakin lama semakin menipis. Oleh karena itu diperlukan terobosan untuk mendapatkan bahan baku energi yang dapat diperbaharui dan mudah dimanfaatkan serta mampu memenuhi kebutuhan hidup khalayak luas. Salah satu terobosan tersebut adalah bahan baku terbarukan dari pohon, berupa kayu energi dari tanaman Kaliandra (Caliandra callothyrsus) yang dapat menghasilkan bahan baku energi secara cepat dan berkualitas terutama untuk produksi pellet (Hendrati dan Nur, 2014).

Perebutan lahan karena berbagai kepentingan dan menipisnya hutan terutama di Jawa telah mempengaruhi kemudahan dalam memenuhi kebutuhan sumber bahan bakar dari kayu bagi masyarakat. Hal itu diperkuat dengan kenyataan masih minimnya industri arang atau kayu bakar yang memunyai lahan sendiri untuk penyediaan sumber kayunya. Selama ini industri tersebut sebagian besar masih tergantung pada pasokan kayu dari masyarakat yang tidak menentu. Oleh karena itu perlu dilakukan intensifikasi untuk meningkatkan produksi pada lahan yang terbatas. Salah satunya dengan menghasilkan tanaman unggul yang cocok ditanam di lahan-lahan masyarakat maupun di lahan yang kurang produktif. Tanaman ini yang memiliki sifat cepat tumbuh dan mudah hidup diharapkan mampu menghasilkan kayu energi yang berkualitas (Trisnadewi, 2015).

1.2 Rumusan Masalah

1.Bagaimana klasifikasi dan habitus pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus)?

2.Apa saja manfaat dari jenis tanaman kaliandra?

3.Bagaimana budidaya pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus) yang berpotensi sebagai kayu energy?

4.Bagaimana potensi pohon kaliandra (Calliandra calotyirsus) dalam usaha pellet kayu di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan

1.Untuk mengetahui klasifikasi dan habitus pohon kaliandra
(Calliandra calothyrsus).

2.Untuk mengetahui manfaat dari jenis tanaman kaliandra.

3.Untuk mengetahui upaya budidaya pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus) yang berpotensi sebagai kayu energy.

4.Untuk mengetahui identifikasi potensi pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus) dalam usaha pellet kayu di Indonesia.



BAB II

ISI

2.1 Klasifikasi dan Habitus Pohon Kaliandra (Calliandra calothyrsus)

            Setiap tumbuhan dikelompokkan dengan tumbuhan lain karena mempunyai ciri-ciri yang sama. Salah satunya adalah ciri morfologi. Tanaman kaliandra kekerabatan dekatnya dapat dilihat pada bagian genus, famili, dan kelas. Berikut adalah klasifikasi ilmiah dari tanaman kaliandra.

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Subdivis          : Angiospermae

Kelas               : Dicotiledoneae

Subkelas          : Dialypetalae

Ordo                : Rosales

Famili              : Mimosaceae

Genus              : Calliandra

Spesies            : Calliandra calothyrsus

            Jenis kaliandra merupakan spesies terbaik dibandingkan spesies-spesies lain. Produksi biomassa kaliandra cukup tinggi terutama diareal dengan ketinggian >800m, sehingga memungkinkan optimasi penggunaan lahan-lahan di daerah tinggi yang tidak datar termasuk di lereng-lereng bukit. Namun demikian kaliandra juga mampu tumbuh dengan baik di dataran rendah ketinggian 150 m di atas permukaan laut (dpl). Tanaman Kaliandra mulai diintroduksikan dari Amerika Tengah ke Indonesia pada akhir tahun 1936. Di Indonesia Kaliandra tumbuh dengan baik dan menunjukkan tampilan yang bagus sehingga jenis ini kemudian banyak ditanam pada tahun 70-an mencapai 30.000 ha. Tanaman kaliandra yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jenis
Calliandra calothyrsus yang berbunga merah, yang bisa tumbuh sampai 4-6 meter. Kaliandra disebut tanaman pionir karena kemampuannya untuk hidup pada berbagai jenis tanah. Kaliandra juga sering dikenal sebagai tanaman perintis.

            C. calothyrsus tumbuh alami di sepanjang bantaran sungai, tetapi dengan cepat akan menempati areal yang vegetasinya terganggu misalnya, tepi-tepi jalan. Jenis Kaliandra tidak tahan naungan dan cepat sekali kalah bersaing dengan vegetasi sekunder lain. Kaliandra terutama terdapat di daerah yang curah hujannya berkisar antara 1000- 4000 mm, meskipun populasi tertentu terdapat di daerah yang curah hujan tahunannya rendah hanya 800 mm. Jenis Kaliandra terutama terdapat di daerah yang musim kemaraunya berlangsung selama 2-4 bulan (dengan curah hujan kurang dari 50 mm per bulan), namun pernah ada juga spesimen yang ditemukan di daerah yang musim kemaraunya mencapai 6 bulan. Kaliandra tumbuh di daerah dengan suhu minimum tahunan 18-22° C dan tidak tahan terhadap pembekuan.

Di tempat tumbuh aslinya, jenis Kaliandra hidup pada berbagai tipe tanah dan tampaknya tahan terhadap tanah yang agak masam dengan ph sekitar 4,5, namun tidak tahan terhadap tanah yang drainasenya buruk dan yang tergenang secara teratur. Di Jawa, pertanamannya umumnya dijumpai pada ketinggian >250m, namun terbaik pada ketinggian >800m sampai 1700m dpl. Kaliandra merupakan jenis agresif sebagai tanaman sekunder, dan tumbuh diberbagai tipe tanah dari tanah vulkanik dalam, sampai alluvial sampai tanah lempung pasiran yang tererosi.

Sebagai kayu energi yang sering digunakan terutama di Jawa, jenis C. calothyrsus dapat tumbuh sampai ketinggian 4-12 m dengan diameter sampai 30 cm. Kaliandra untuk produksi kayu energi sebaiknya ditanam di areal terbuka dengan jarak tanam 1x1 m atau 1x2 m. Kayu Kaliandra memunyai berat sedang (510-780 kg/m3), kayunya kuat dan mudah digergaji, mudah sekali kering sehingga menguntungkan karena mengurangi biaya pengeringan jika akan digunakan untuk suplai bahan baku energi pelet. Panjang seratnya 0.66-0.84 mm dan memunyai karakter kayu berkualitas energi yang bagus.

2.2 Manfaat dari Jenis Tanaman Kaliandra

            C. calothyrsus memiliki banyak kegunaan yaitu untuk kayu energi, pakan ternak, pengontrol erosi, perbaikan tanah karena kemampuannya mengikat nitrogen dan memproduksi serasah, penahan api, serta bunganya yang bagus juga menyebabkan jenis ini ditanam sebagai penghias jalan dan sumber nektar bagi lebah. Pohon yang ditanam di lereng bukit sepanjang garis kontur dapat menahan tanah dan akhirnya membentuk teras alami. C. calothyrsus juga telah digunakan untuk merehabilitasi tanah masam yang tidak produktif dan ditumbuhi alang-alang (Imperata cylindrica).

            C. calothyrsus untuk kayu bakar sudah ditanam di lahan-lahan pribadi dan milik umum di Jawa. Kayunya yang berkerapatan tinggi dengan berat jenis 0.5 - 0.8 membuatnya cepat kering dan mudah dibakar, dapat menghasilkan energi yang memenuhi syarat komersial yakni sekitar 4600 kkal per kg kayu kering dan 7200 kkal panas per kg arang. Untuk merangsang tunas baru, pohon sebaiknya dipangkas setinggi 30 - 50 cm pada akhir musim kemarau, agar pada musim penghujan trubusan sudah mulai muncul. Tanaman Kaliandra dapat membentuk trubus dengan cepat setelah dipangkas, dan dengan pemangkasan tiap tahun pada cabang diameter 3-5 cm, tanaman dapat bertahan hidup sampai bertahun-tahun.

Hasil kayu bakar per tahun berkisar 5-20 m3/ha dari kebun yang berumur satu tahun dan meningkat menjadi 30-65 m3/ha dari kebun yang berumur 20 tahun. Penggunaan bibit unggul dan aplikasi sistem silvikultur diharapkan akan mendapatkan produk 653/ha/tahun dalam waktu yang relatif lebih awal 2-3 tahun. Agar memeroleh produksi biomassa yang maksimum, Kaliandra bisa ditanam dengan kerapatan 5000 pohon/ ha (jarak tanam 1x2m ) dan dipangkas setinggi 1 m di atas permukaan tanah secara berulang setiap empat bulan sampai 1,5 tahun tergantung kesuburan, perawatan dan banyaknya curah hujan.

            C. calothyrsus juga sangat baik untuk meningkatkan kesuburan tanah masam dengan ditanam pada jarak 1 x 1m (10.000 pohon/ha). Pengelolaan Kaliandra dengan sistem bera bergilir dapat meningkatkan hasil tanaman pangan berikutnya 1,5–2 kali dibandingkan dengan hasil panen setelah diberakan secara alami dalam jangka waktu yang sama. Pohon ini ditebang di permukaan tanah selama musim tanam untuk tanaman pangan dan dibiarkan tumbuh selama masa bera. Hasil awal dari percobaan yang dilakukan di Vietnam menunjukkan bahwa dengan mengganti bera alami dengan C. calothyrsus, masa bera dapat diperpendek dari 10–15 tahun menjadi 4–5 tahun tanpa mengurangi kesuburan tanah. Dalam sistem bera yang telah ditingkatkan, petani menanam C. calothyrsus sebanyak 5000-10.000 semai/ha selama rotasi tanaman pangan yang terakhir. Kaliandra juga digunakan untuk mengubah padang alang-alang menjadi sitem silvopastur. Jarak tanam yang direkomendasikan adalah 5 x 5m.

2.3  Upaya Budidaya Kaliandra (Calliandra calothyrsus) yang Berpotensi sebagai Kayu Energi

Pohon Kaliandra dapat dikembangkan secara vegetatif maupun generatif. Secara generatif pohon Kaliandra dapat dikembangkan dengan menggunakan bijinya yang dapat diperoleh mulai tanaman umur 2 tahun. Keberhasilan pembudidayaan Kaliandra ini secara umum tergantung dari faktor benih (unggul vs belum dimuliakan), lahan untuk menanam (ketinggian, curah hujan, kesuburan dll), teknis penanaman (pemeliharaan, campuran vs monokultur dll.) dan penanamannya (waktu tanam, jarak tanam, pupuk dasar dll).

Biji dihasilkan pada tahun pertama pertumbuhannya, tetapi tidak semua pohon menghasilkan biji secara bersamaan. Sedikitnya 100 g biji per pohon (250-300 polong atau 1700 benih) dapat dihasilkan setiap musim namun jumlahnya bervariasi sesuai umur, ukuran pohon, dan lokasi serta kesediaan hewan penyerbuk. Di luar sebaran alaminya, produksi benih sangat bervariasi. Perkecambahan biji Kaliandra akan cepat terjadi dengan memberi perlakuan pada biji yaitu biji dsiram air panas kemudian didiamkan selama semalam sebelum ditaburkan. Media tabur yang digunakan berupa pasir. Biji akan mulai berkecambah 2 minggu sampai 1 bulan setelah penaburan. Saat terbaik memindah kecambah ke polybag adalah segera setelah biji tumbuh dan mengeluarkan daun pertama. Semai tanaman Kaliandra biasanya siap ditanam di lapangan setelah 2-3 bulan dalam polybag. Ketinggian semainya sudah mencapai 30-50 cm.

Penanaman dilakukan sesuai dengan tujuan utama Kaliandra dalam kegiatan ini yakni sebagai pohon energi. Penanaman untuk tujuan kayu energi disarankan ditanam pada jarak 1x1 atau 1x2 m. Penanaman dilakukan dengan membuat lobang 30X30X30cm yang telah diberi pupuk kandang 1-2 kg. Pada tahun pertama penanaman, akar masih belum berkembang sempurna, tanaman masih perlu pengawasan terutama pada musim kemarau. Oleh karenanya pada penanaman di daerah yang curah hujannya rendah atau penurunan dari 95% (umur 4 bulan) menjadi 83% (umur 8 bulan), meskipun pada kurun waktu tersebut pertumbuhannya cukup signifikan dengan tinggi dan diameter yang hampir 2 kali lipat. Pada daerah curah hujan sedang >2000mm/th pemberian mulsa daun atau plastik tidak perlu dilakukan.

Pemotongan pohon Kaliandra dapat dilakukan setelah 1 tahun tumbuh menjelang musim penghujan pada ketinggian 50 cm dengan harapan trubusannya akan muncul saat musim hujan tiba. Cabang-cabang trubusan ini yang nantinya pada 1-1.5 tahun kedepan akan dimanfaatkan untuk suplai kayu energi. Pemanenan ini akan dapat diulang 6-10 kali sampai umur 10-15 tahun tanpa harus menanam ulang tanaman induknya. C. calothyrsus dapat beradaptasi pada berbagai lingkungan. Meskipun demikian, bila menanam jenis ini, penting untuk menggunakan sumber benih yang telah diketahui dapat tumbuh baik di lingkungan yang meyerupai lokasi penanaman. Pengenalan sumber benih yang baik untuk suatu lokasi penanaman, akan selalu menghasilkan peningkatan daya tahan, pertumbuhan dan produktifitas tanaman.

Kaliandra dapat dibudidayakan dengan cara vegetatif secara sangat cepat dan mudah yaitu dengan cara cangkok. Pencangkokan bermanfaat untuk mempertahankan karakter unggul dari pohon induknya yang ditanam di lapangan.

Penggunaan bibit unggul dipastikan akan meningkatkan produktifitas. Pemilihan individu dengan volume pertumbuhan yang tinggi juga menguntungkan karena individu yang mempunyai diameter yang lebih besar menunjukkan kualitas kayu bakar yang lebih baik yang disebabkan karena kekerasannya, nilai kalornya dan kandungan ligninnya 33%. Kandungan lignin ini akan membantu perekatan yang lebih sempurna dalam produksi kayu energi dalam bentuk pelet. Sehingga akan mengurangi biaya pemberian bahan yang diperlukan untuk perekatan.

2.4  Identifikasi Potensi Pohon Kaliandra (Calliandra Calothyrsus) dalam Usaha Pellet Kayu di Indonesia.

Wood pellet dikenalkan kepada masyarakat dengan tujuan memberikan informasi mengenai alternatif pemanfaatan kayu kaliandra. Masyarakat Dusun memanfaatkan ranting dan dahan kaliandra sebagai kayu bakar dan sebagian dijual dengan harga Rp 10.000,- per ikat bila dijual di Dusun Keceme dan Rp 15.000,- per ikat bila dijual di Kecamatan Borobudur Magelang. Pengenalan wood pellet dari berbagai bahan baku menarik perhatian masyarakat. Praktek penggunaan kompor pellet kayu merupakan salah satu sumber energi yang diharapkan dapat menggantikan sumber bahan bakar minyak, namun apabila kayu langsung dijadikan sebagai bahan bakar mempunyai sifat-sifat yang kurang menguntungkan, antara lain kadar air yang tinggi, banyak mengeluarkan asap, banyak abu, dan nilai kalornya rendah.

Keunggulan produk pelet kayu lainnya adalah mudah dalam pengepakan dan pengangkutan. Peluang permintaan pelet kayu ini dimungkinkan karena bahan bakar yang tidak terbarukan (minyak tanah,gas) saat ini harganya terus meningkat dan terkadang sulit didapat di pasar. Kelemahan dari pelet kayu adalah belum dikenal oleh masyarakat khususnya para Industri Kecil Menegah (IKM). Sementara itu dari pelet kayu adalah dari sisi harga harus bersaing dengan bahan bakar yang tidak terbarukan. Penggunaan kompor pellet dikenalkan kepada masyarakat dengan harapan memberikan informasi dan pengetahuan peluang penghematan bahan bakar dengan menggubakan pellet kayu. Pelet kayu 5 kg pellet setara dengan 3 kg gas (“tabung melon”), sedangkan harga pellet kayu sekitar Rp 2.000,- per kg. Kompor pellet diharapkan mampu mensubstitusi ketergantungan masyarakat Keceme terhadap energi fosil (minyak dan gas).

Tanaman Kaliandra sendiri merupakan tanaman perdu yang mempunyai batang berkayu, bertajuk lebat, dapat mencapai tinggi hingga 45 meter dan mempunyai perakaran yang dalam hingga 1,5 meter sampai 2 meter. Jenis ini tanaman ini mampu tumbuh di semua jenis tanah, tahan pangkasan, cepat bersemi dan lebat. Sistem perakaran tanaman Kaliandra dapat membentuk bintil akar, bintil akar ini dapat menyerap nitrogen dan menjadikan tanah subur. Kayunya juga bisa digunakan untuk kayu bakar, namun uniknya tidak mengeluarkan asap saat dibakar. Yang terpenting, kayu Kaliandra memiliki berat jenis antara 0,5—0,8 dan dapat menghasilkan panas sebanyak 4200 kkal/kilogram sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pelet kayu.

Pelet kayu adalah bahan bakar berbasis biomassa yang lebih ramah lingkungan dari batu bara. Kaliandra sangat pas menjadi bahan pelet kayu. "Jadi masyarakat dapat menjadikan tanaman Kaliandra ini sebagai pundi-pundi uang," katanya. Salah satu jenis Kaliandra yang paling di kenal adalah jenis Kaliandra bunga merah (calliandra calothyrsus). Tanaman Kaliandra dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki tanah dan di tanam di lereng yang curam sebagai penahan erosi. Dinas Kehutanan Sumbar mendorong masyarakat untuk memanfaatkan tanaman Kaliandra itu sebagai lumbung energi.



BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Kaliandra dapat menjadi alterantif bahan baku potensial untuk dikembangkan sebagai sumber energi berbasis biomassa. Beberapa faktor yang mendukung pengembangan komoditas ini adalah 1) sistem silvikultur yang telah dikuasai baik pembibitan, penanaman, pemeliharaan serta pemanenan, 2) faktor edafik dan klimatis di Indonesia yang sesuai dengan habitat, 3) dukungan kebijakan dari pemerintah dan 4) peluang pasar yang masih terbuka lebar.

3.2 Saran

Sebaiknya dilakukan beberapa penelitian maupun kajian yang lebih mendalam mengenai komoditas yang selama ini kurang mendapat perhatian seperti tanaman kaliandra yang berguna sebagai pellet kayu dan juga diupayakan dapat dikelola dengan baik untuk merespon perkembangan kebutuhan dan produksi energi nasional dan global.


DAFTAR PUSTAKA

Darmawan UW. 2012. Pengembangan Kaliandra (Calliandra Calothyrsus) Sebagai Kayu Energi. Jurnal Mitra Hutan Tanaman, 7(2): 39-50.

 

Fitriandi D, Jangkung HM, Dwidjono HD. 2020. Estimasi Permintaan Ekstrak Jernang (Daemonorops spp.) Di Pasar Ekspor. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 9(1), 75-82.

 

Heyadi, Sri J, Syaiful B. 2018. Analisis Perencanaan Bisnis (Business Plan) Usaha Pengolahan Minyak Kemiri (Studi Kasus di UPT KPH Kulawi Provinsi Sulawesi Tengah). Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Palu.

 

Soedomo S, Hariadi K. 2011. Prospek Industri Hutan Tanaman di Indonesia. Jakarta.

 

Trisnadewi AAAS, I GLOC. 2015. Kecernaan In-Vitro Tanaman Kaliandra (Calliandra calothyrsus) Berbunga Merah Dan Putih. Jurnal pasture, 5(1): 39 – 41.

 

Sidabutar VTP. 2018. Kajian Peningkatan Potensi Ekspor Pelet Kayu Indonesia sebagai Sumber Energi Biomassa yang Terbarukan. Jurnal Ilmu Kehutanan, 12 (18): 99-116.

 

Prasetyo E, Wiyono, Puji L, Rochmat H, Silvi NO, Agus N, Prasetyo N. 2017. Penanaman Kaliandra Sebagai Kayu Energi dan Hijauan Makanan Ternak Pada Pertanaman Agroforestri Masyarakat Desa Gerbosari, Samigaluh Kulon Progo. Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada.

 

Hendrati RL, Nur H. 2014. Budidaya Kaliandra (Calliandra calothyrsus) Untuk Bahan Baku Sumber Energi. IPB Press: Bogor.

Senin, 21 Desember 2020

Review Jurnal "Kajian Valuasi Ekonomi Hutan Mangrove Di Desa Pasar Banggi, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang"

Judul Jurnal                 :  Kajian Valuasi Ekonomi Hutan Mangrove Di Desa Pasar Banggi, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang

Nama Jurnal                : Journal Of Marine Research

Volume dan Nomor    : Volume 2 Nomor 2

Tahun Penerbitan        :  2012

Penulis                         :  Aurora Hanifa, Rudhi Pribadi, Nirwani

Reviewer (NIM)         : Maria Elfani Sitorus (181201073)

Tanggal                       :  21 Desember 2020

Pendahuluan

Desa Pasar Banggi berada di Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang dan memiliki hutan mangrove buatan atau hasil restorasi. Hutan mangrove di Rembang, khususnya di Desa Pasar Banggi merupakan hutan mangrove yang relatif cukup baik untuk ukuran Pantai Utara Jawa dan sering dijadikan acuan untuk wilayah Jawa Tengah, terbukti dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan di Desa Pasar Banggi. Kerusakan mangrove di Indonesia sudah mencapai 70%, hal tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman mengenai pentingnya fungsi dan manfaat mangrove secara ekonomi dan untuk lebih menghargai ekosistem mangrove. Walaupun demikian, masyarakat lokal masih melakukan pemanfaatan berlebihan dan melakukan pengerusakan. Untuk mengatasinya perlu dilakukan penilaian (valuasi) ekonomi terhadap besarnya manfaat dan fungsi, khususnya manfaat mangrove secara langsung sebagai instrument untuk menunjang keberhasilan informasi yang di dapat. Dengan mengetahui nilai hutan mangrove maka, masyarakat tidak akan melakukan pengerusakan terhadap hutan mangrove.

Materi

Materi yang digunakan terdiri dari hasil pengamatan langsung di lapangan, data-data terkait yang bersumber dari Instansi Pemerintah Daerah dan kuisioner wawancara yang di bagikan kepada masyarakat di Desa Pasar Banggi, Pemerintah Daerah, serta pustaka yang berhubungan dengan valuasi ekonomi.

Metode Penelitian

Lokasi penelitian ditentukan dengan mempertimbangkan Desa Pasar Banggi, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang sebagai salah satu hutan hasil restorasi yang dinilai cukup berhasil. Penelitian dilakukan setelah dilakukan pengambilan sampel, Metode penentuan sampel menggunakan metode sampling purposive. Data penelitian di bagi menjadi dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Aplikasi pendekatan ekonomi yang digunakan tidak terlepas dari konsep penilaian ekonomi total (total economic valuation), karena pada penelitian ini yang dicari adalah nilai manfaat secara langsung maka, konsep yang digunakan juga konsep pendekatan ekonomi secara langsung yaitu, manfaat dan fungsi yang mendukung hasil interpretasi nilai manfaat langsung. Data-data yang diperoleh pada saat penelitian selanjutnya diinterpretasi dan diidentifikasi hasilnya secara deskriptif.

Hasil dan Pembahasan

Penduduk Desa Pasar Banggi berjumlah 2.952 jiwa, jumlah Kepala Keluarga sebanyak 735 jiwa dengan wilayah 60.00 ha. Sebagian besar penduduk hanya memiliki pengetahuan mengenai manfaat dan fungsi hutan mangrove sebatas informasi yang di dengar dari orang–orang sebelum mereka. Sebagian besar masyarakat Desa Pasar Banggi berpendapat bahwa hutan mangrove memiliki manfaat yang besar namun, tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa hutan mangrove tidak memiliki manfaat sama sekali.

            Identifikasi manfaat dan fungsi ekosistem hutan mangrove di Desa Pasar Banggi, pada saat ini dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kategori manfaat, yaitu: manfaat langsung, manfaat tidak langsung, manfaat pilihan, dan manfaat eksistensi. Manfaat langsung terdiri dari, tambak bandeng alami dan pakan, tambak garam, penjualan bibit mangrove jenis Rhizophora sp. dan Avicennia sp., serta penangkapan ikan, tiram dan kepiting. Manfaat tidak langsung ialah penahan ombak,pencegah intrusi dengan menggunakan asumsi pembuatan breakwater. Nilai manfaat tidak langsung di dapat sebesar Rp.18.717.774.250.- /thn.

Nilai total dari manfaat biodiversity ini didapat dengan cara mengalikan nilai manfaatnya yaitu, US$15/ha/thn dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yaitu Rp.9200 (pada 15 Oktober 2012), sehingga didapat nilai sebesar Rp.138.000. Hasil tersebut dikalikan dengan luas total dari ekosistem hutan mangrove yang ada saat ini yaitu seluas 14,88 ha. Dengan demikian nilai total dari manfaat biodiversity pada hutan mengrove di Desa Pasar Banggi sebesar Rp. 2.053.440/thn. Manfaat eksistensi berupa manfaat keberadaan habitat mangrove. Nilai total dari manfaat biodiversity ini didapat dengan cara mengalikan nilai manfaatnya yaitu, US$2516 per ha per tahun dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yaitu Rp.9200 (pada 15 Oktober 2010), sehingga didapat nilai sebesar Rp.23.147.200/ha/thn. Hasil tersebut dikalikan dengan luas total dari ekosistem hutan mangrove yang ada saat ini yaitu seluas 14,88 ha. Dengan demikian nilai total dari manfaat biodiversity pada hutan mengrove di Desa Pasar Banggi sebesar Rp.1.368.960/thn.

Barbier (1989) mengelompokan karakteristik manfaat hutan mangrove menjadi tiga kategori yaitu : tinggi, sedang dan rendah. kriteria perangkingan berdasarkan pada sumberdaya hutan mangrove, fungsi dan hubungannya dengan pengaruh dari manfaat yang ada Bila di bandingkan antara dua lokasi yang mengadaptasi sistem rangking Barbier (1989) dengan hutan mangrove di Desa Pasar Banggi maka, ranking hutan mangrovenya sama yaitu, nilai tertinggi berada pada nilai manfaat secara langsung, kemudian nilai sedang pada manfaat tidak langsung dan nilai rendah adalah manfaat keanekaragaman dan keberadaan.

Kesimpulan

Hasil identifikasi Hutan Mangrove di Desa Pasar Banggi terdiri dari empat komponen yaitu, Manfaat Langsung berupa Tambak Bandeng, Tambak Garam, Bibit Mangrove, Penangkapan Ikan, Tiram dan Kepiting, Manfaat Tidak Langsung berupa penahan Abrasi, Manfaat Pilihan berupa manfaat keanekaragaman hayati dan Manfaat eksistensi berupa keberadaan habitat. Asumsi pembuatan breakwater adalah manfaat yang paling besar.

Kelebihan

Pengambilan data penelitian dilakukan dalam 2 data yaitu data primer dan sekunder sehingga semua data yang terkait dapat dijelaskan secara deskriptif kepada pembaca karena memuat segala informasi yang dibutuhkan oleh pembaca.

Kelemahan

Tidak menjabarkan analisis data dengan cukup jelas, sehingga pembaca harus memahami sendiri penjelasan dalam jurnal penelitian dan juga tidak ada penjabaran secara deskriptif untuk nilai manfaat total hutan mangrove.

Jumat, 14 Juni 2019

Wirausaha Online "TOKOPEDIA" Marketplace

WIRAUSAHA ONLINE “TOKOPEDIA” MARKETPLACE

Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
Maria Sitorus
181201073
HUT 2 A















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019





KATA PENGANTAR
Puji serta syukur penulis sampaikan kepada Tuhan yang Maha Esa sebab oleh karena berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan paper ini dengan baik dan tepat waktu. Paper yang berjudul “Wirausaha Online TOKOPEDIA Marketplace” ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah kewirausahaan Program Studi Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, Medan.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarnya kepada dosen mata kuliah Kewirausahaan, Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan paper ini dan telah memberi materi kuliah yang sungguh bermanfaat kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran maupun kritik yang cukup membangun agar dapat menyelesaikan paper yang lebih baik lagi kedepannya. Sekian dari penulis. Semoga paper ini dapat bermanfaat dan menjadi sumber informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
                                      
                                 
                                                                                              Medan, 14 Juni 2019
    
  Penulis







  
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Marketplace online adalah salah satu situs perdagangan elektronik (E-Commerce) sebagai wadah yang menampung informasi-informasi mengenai suatu produk atau layanan yang telah disediakan oleh banyak pihak ketiga tetapi dalam hal proses transaksinya diatur oleh operator marketplace sendiri. Pada dasarnya pemilik marketplace tidak bertanggung jawab terhadap barang-barang yang dijual oleh pihak ketiga (pedagang) dalam media marketplace ini sebab tugas mereka hanyalah sebatas untuk menyediakan wadah bagi para produsen (pedagang) yang ingin memasarkan produknya dan membantu mereka untuk bertemu dengan konsumen (costumer) sehingga transaksi jual beli menjadi lebih mudah dilaksanakan. Salah satu alasan mengapai marketplace online saat ini sangat terkenal dikalangan masyarakat adalah sebab penggunaannya dapat mempermudah kegiatan masyarakat dan sifatnya memang nyaman. Pada paper kali ini saya akan membahas salah satu marketplace online yang sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat sejak lama yaitu platform tokopedia.
1.2 Tujuan
1.    Untuk mengetahui pengertian dari marketplace online
2.    Untuk mengetahui profil serta platform marketplace online TOKOPEDIA
3.    Untuk mengetahui keunggulan dan prestasi TOKOPEDIA
4.    Untuk mengetahui profil founder dari TOKOPEDIA
5. Untuk mengetahui masalah-masalah yang di hadapi founder TOKOPEDIA selama merintis TOKOPEDIA









BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Profil TOKOPEDIA
TOKOPEDIA adalah salah satu perusahaan teknologi berbasis online milik Indonesia yang dapat digunakan sebagai wadah bagi setiap individu maupun toko kecil serta perusahaan dagang untuk mengelola perdagangannya dalam market place ini. TOKOPEDIA dapat diakses melalui situs web yaitu www.tokopedia.com dan dapat juga diakses melalui aplikasi di telepon seluler yang harus di download terlebih dahulu melalui playstore di telepon seluler individu. TOKOPEDIA ini sebenarnya dapat digunakan sebagai wadah jual beli, setiap individu dapat menjadi pedagang dalam market place ini dan dapat juga sebagai costumer (konsumen).
TOKOPEDIA telah didirikan sejak tanggal 6 Februari 2009. Sejak diluncurkan, layanan dasar Tokopedia dapat digunakan oleh semua orang secara gratis. Dengan visi "Membangun sebuah ekosistem dimana siapa pun bisa memulai dan menemukan apapun. Tokopedia telah memberdayakan jutaan pedagang dan konsumen untuk berpartisipasi dalam masa depan perekonomian. Tokopedia secara konsisten mendukung para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan perorangan untuk mengembangkan usaha mereka dengan memasarkan produk secara daring.

2.2  Keunggulan dan Prestasi TOKOPEDIA
TOKOPEDIA saat ini telah menjadi perusahaan berstatus unicorn dengan valuasi lebih dari 1 miliar. Tak sebatas sampai disitu, TOKOPEDIA juga berhasil meraih berbagai penghargaan dalam tingkat nasional juga internasional misalnya reward "ANDROID EXCELLENCE APPS" sebagai aplikasi terbaik pilihan google di playstore. Sepanjang tahun 2018, TOKOPEDIA memiliki beberapa pencapaian yang patut dibanggakan. Selain menjalin lebih banyak kerjasama untuk semakin mendorong demokratisasi perekonomian di Indonesia, di 2018 juga ada banyak kegiatan dan promo menarik yang dilakukan oleh TOKOPEDIA, seperti Festival KEBUT, rangkaian kegiatan MAKERFEST, Ramadan Ekstra, dan masih banyak lagi.
Sebagai perusahaan teknologi terkemuka di Indonesia dengan platform marketplace, teknologi keuangan, produk digital, logistik serta pembayaran, TOKOPEDIA selalu berinovasi menghadirkan produk-produk yang berfokus untuk memudahkan hidup masyarakat. TOKOPEDIA hadir untuk menciptakan peluang dan membantu masyarakat untuk mendapatkan lebih. Dengan misi pemerataan ekonomi di Indonesia secara digital, TOKOPEDIA mempermudah hidup penggunanya, membantu mereka mencapai mimpi, dan juga mendukung perkembangan Indonesia dalam mencapai perekonomian yang lebih inklusif.
2.3  Profil Founder TOKOPEDIA

Pencipta dari TOKOPEDIA ini adalah seorang pengusaha Indonesia yaitu William Tanuwijaya, lahir di Pematangsiantar tanggal 11 November 1981, saat ini berusia 38 tahun. Setelah beliau menamatkan masa sekolahnya, neliau melanjutkan kuliahnya ke Jakarta namun pada tahun kedua perkuliahannya ayahanda beliau jatuh sakit sehingga beliau harus bekerja part time sehingga akhirnya beliau masuk ke dunia online dan mengantarkan beliau untuk meluncurkan TOKOPEDIA dan tentunya banyak halangan yang harus beliau atasi sehingga dapat mencapai tingkat kejayaannya sampai saat ini.


Kejayaan dari perusahaan ini mengantarkan William menjadi salah satu pengusaha muda yang berhasil di tanah air dan salah satu reward yang pernah diraih adalah "YOUNG GLOBAL LEADERS" tahun 2016 sebagai salah satu pengusaha muda yang berpengaruh di dunia. Sebenarnya ide tentang pembangunan TOKOPEDIA ini sudah muncul sejak 2007 namun WIlliam tidak memiliki modal yang cukup sehingga beliau harus mengajak temannya untuk berpartner yaitu Leontinus Alpha Edison merintis pada tanggal 6 Februari 2009. Waktu pengembangan TOKOPEDIA, membutuhkan waktu kurang lebih 6 bulan. Tepat pada ulang tahun Indonesia yang ke 64 (17 Agustus 2009), William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison merilis TOKOPEDIA. TOKOPEDIA boleh dibilang memiliki perkembangan jumlah penjual dan pembeli yang cukup bagus. Pada tahun pertamanya, TOKOPEDIA mendapatkan suntikan investasi. Prestasi di tahun pertamanya, Tokopedia mendapatkan penghargaan dari Bubu Awards sebagai startup e-commerce terbaik di Indonesia.
2.4  Masalah yang di Hadapi
William Tanuwijaya sempat sharing bahwa saat awal mendirikan TOKOPEDIA, Beliau banyak diremehkan orang. Banyak orang yang menolak ide bisnis yang disodorkan William Tanuwijaya. Modal pertamanya dijalankan dengan cara mencari modal sendiri dan suntikan dana dari bos. Dengan modal seadanya, TOKOPEDIA berjalan dengan usaha yang maksimal. Tak lama investor mulai berdatangan, salah satunya East Ventures. Sejak tahun 2010, Tokopedia selalu mendapat investasi dari asing, seperti East Ventures (pada 2010), Cyber Agent Ventures (2011), Beenos (2012), dan Soft Bank (2013).


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
1.  Pada tahun-tahun awal TOKOPEDIA, William berusaha mendanai bisnisnya sendiri. Walaupun hal ini tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin untuk dijalankan.
2.  Mampu memberikan rasa aman kepada pemangku kepentingan (stake holder), seperti penjual, pembeli dan investor. Buktinya William dipercaya oleh investor, dengan pendanaan setiap tahun.
3.  Memberikan solusi yang baik untuk Bangsa Indonesia. TOKOPEDIA memberikan harapan kepada masyarakat Indonesia untuk dapat meningkatkan pendapatannya dan mempermudah akses untuk menjual barang-barang secara online.
3.2 Saran
1.  Memulai sesuatu dengan ide sederhana, mengatasi permasalahan secara langsung (bisnis online yang rawan penipuan) dan didukung dengan riset.
2.  Pantang menyerah saat mengalami kesulitan, terlebih saat fase-fase mengumpulkan pendanaan (funding).
3.    Mau memperjuangkan mimpi