Judul Jurnal : Kajian Valuasi Ekonomi Hutan Mangrove Di Desa Pasar Banggi, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang
Nama Jurnal : Journal Of Marine
Research
Volume dan Nomor : Volume
2 Nomor 2
Tahun Penerbitan : 2012
Penulis : Aurora Hanifa, Rudhi Pribadi, Nirwani
Reviewer (NIM) : Maria
Elfani Sitorus (181201073)
Tanggal : 21 Desember 2020
Pendahuluan
Desa Pasar Banggi berada
di Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang dan memiliki hutan mangrove buatan atau
hasil restorasi. Hutan mangrove di Rembang, khususnya di Desa Pasar Banggi
merupakan hutan mangrove yang relatif cukup baik untuk ukuran Pantai Utara Jawa
dan sering dijadikan acuan untuk wilayah Jawa Tengah, terbukti dengan banyaknya
kegiatan yang dilakukan di Desa Pasar Banggi. Kerusakan mangrove di Indonesia
sudah mencapai 70%, hal tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman mengenai
pentingnya fungsi dan manfaat mangrove secara ekonomi dan untuk lebih
menghargai ekosistem mangrove. Walaupun demikian, masyarakat lokal masih melakukan
pemanfaatan berlebihan dan melakukan pengerusakan. Untuk mengatasinya perlu
dilakukan penilaian (valuasi) ekonomi terhadap besarnya manfaat dan fungsi, khususnya
manfaat mangrove secara langsung sebagai instrument untuk menunjang keberhasilan
informasi yang di dapat. Dengan mengetahui nilai hutan mangrove maka,
masyarakat tidak akan melakukan pengerusakan terhadap hutan mangrove.
Materi
Materi yang digunakan
terdiri dari hasil pengamatan langsung di lapangan, data-data terkait yang
bersumber dari Instansi Pemerintah Daerah dan kuisioner wawancara yang di
bagikan kepada masyarakat di Desa Pasar Banggi, Pemerintah Daerah, serta
pustaka yang berhubungan dengan valuasi ekonomi.
Metode Penelitian
Lokasi penelitian
ditentukan dengan mempertimbangkan Desa Pasar Banggi, Kecamatan Rembang,
Kabupaten Rembang sebagai salah satu hutan hasil restorasi yang dinilai cukup
berhasil. Penelitian dilakukan setelah dilakukan pengambilan sampel, Metode
penentuan sampel menggunakan metode sampling purposive. Data penelitian di bagi
menjadi dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Aplikasi pendekatan
ekonomi yang digunakan tidak terlepas dari konsep penilaian ekonomi total (total economic valuation), karena pada
penelitian ini yang dicari adalah nilai manfaat secara langsung maka, konsep yang
digunakan juga konsep pendekatan ekonomi secara langsung yaitu, manfaat dan
fungsi yang mendukung hasil interpretasi nilai manfaat langsung. Data-data yang
diperoleh pada saat penelitian selanjutnya diinterpretasi dan diidentifikasi
hasilnya secara deskriptif.
Hasil dan Pembahasan
Penduduk Desa Pasar
Banggi berjumlah 2.952 jiwa, jumlah Kepala Keluarga sebanyak 735 jiwa dengan
wilayah 60.00 ha. Sebagian besar penduduk hanya memiliki pengetahuan mengenai
manfaat dan fungsi hutan mangrove sebatas informasi yang di dengar dari
orang–orang sebelum mereka. Sebagian besar masyarakat Desa Pasar Banggi
berpendapat bahwa hutan mangrove memiliki manfaat yang besar namun, tidak
sedikit pula yang mengatakan bahwa hutan mangrove tidak memiliki manfaat sama
sekali.
Identifikasi
manfaat dan fungsi ekosistem hutan mangrove di Desa Pasar Banggi, pada saat ini
dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kategori manfaat, yaitu: manfaat langsung,
manfaat tidak langsung, manfaat pilihan, dan manfaat eksistensi. Manfaat
langsung terdiri dari, tambak bandeng alami dan pakan, tambak garam, penjualan
bibit mangrove jenis Rhizophora sp.
dan Avicennia sp., serta penangkapan
ikan, tiram dan kepiting. Manfaat tidak langsung ialah penahan ombak,pencegah
intrusi dengan menggunakan asumsi pembuatan breakwater. Nilai manfaat tidak
langsung di dapat sebesar Rp.18.717.774.250.- /thn.
Nilai total dari
manfaat biodiversity ini didapat dengan cara mengalikan nilai manfaatnya yaitu,
US$15/ha/thn dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yaitu Rp.9200 (pada 15
Oktober 2012), sehingga didapat nilai sebesar Rp.138.000. Hasil tersebut
dikalikan dengan luas total dari ekosistem hutan mangrove yang ada saat ini
yaitu seluas 14,88 ha. Dengan demikian nilai total dari manfaat biodiversity
pada hutan mengrove di Desa Pasar Banggi sebesar Rp. 2.053.440/thn. Manfaat
eksistensi berupa manfaat keberadaan habitat mangrove. Nilai total dari manfaat
biodiversity ini didapat dengan cara mengalikan nilai manfaatnya yaitu, US$2516
per ha per tahun dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yaitu Rp.9200
(pada 15 Oktober 2010), sehingga didapat nilai sebesar Rp.23.147.200/ha/thn.
Hasil tersebut dikalikan dengan luas total dari ekosistem hutan mangrove yang
ada saat ini yaitu seluas 14,88 ha. Dengan demikian nilai total dari manfaat
biodiversity pada hutan mengrove di Desa Pasar Banggi sebesar Rp.1.368.960/thn.
Barbier (1989) mengelompokan
karakteristik manfaat hutan mangrove menjadi tiga kategori yaitu : tinggi, sedang
dan rendah. kriteria perangkingan berdasarkan pada sumberdaya hutan mangrove,
fungsi dan hubungannya dengan pengaruh dari manfaat yang ada Bila di bandingkan
antara dua lokasi yang mengadaptasi sistem rangking Barbier (1989) dengan hutan
mangrove di Desa Pasar Banggi maka, ranking hutan mangrovenya sama yaitu, nilai
tertinggi berada pada nilai manfaat secara langsung, kemudian nilai sedang pada
manfaat tidak langsung dan nilai rendah adalah manfaat keanekaragaman dan
keberadaan.
Kesimpulan
Hasil identifikasi
Hutan Mangrove di Desa Pasar Banggi terdiri dari empat komponen yaitu, Manfaat
Langsung berupa Tambak Bandeng, Tambak Garam, Bibit Mangrove, Penangkapan Ikan,
Tiram dan Kepiting, Manfaat Tidak Langsung berupa penahan Abrasi, Manfaat
Pilihan berupa manfaat keanekaragaman hayati dan Manfaat eksistensi berupa keberadaan
habitat. Asumsi pembuatan breakwater adalah manfaat yang paling besar.
Kelebihan
Pengambilan data penelitian dilakukan
dalam 2 data yaitu data primer dan sekunder sehingga semua data yang terkait
dapat dijelaskan secara deskriptif kepada pembaca karena memuat segala
informasi yang dibutuhkan oleh pembaca.
Kelemahan
Tidak menjabarkan
analisis data dengan cukup jelas, sehingga pembaca harus memahami sendiri
penjelasan dalam jurnal penelitian dan juga tidak ada penjabaran secara
deskriptif untuk nilai manfaat total hutan mangrove.


