Makalah Mata kuliah Bisnis Kehutanan Medan, 29 Maret 2021
BISNIS POHON KALIANDRA (Calliandra Calothyrsus)
SEBAGAI WOOD PELLET
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko,
S.Hut., M.Si.
Oleh:
Maria Elfani Sitorus
181201073
MNH 6
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa
yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Bisnis Kehutanan ini dengan baik
dan tepat waktu. Penulisan makalah ini ialah sebagai pemenuhan tugas Mata Kuliah Bisnis Kehutanan, di Departemen Manajemen Hutan, Fakultas
Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Makalah ini ialah
berjudul “Bisnis Pohon
Kaliandra (Calliandra calothyrsus) sebagai
kayu Energi”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung
jawab Mata
Kuliah Bisnis Kehutanan yaitu Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M. Si. yang telah
memberikan materi dengan baik dan benar hingga
selesainya penulisan makalah ini.
Penulis juga
menyadari bahwa penulisan makalah ini masih sangat
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi penyempurnaan tugas-tugas
selanjutnya.
Medan, 29 Maret 2021
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Prinsip
pengelolaan hutan terkini adalah meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam
pengelolaan hutan dan kelestarian ekosistem. Pengelolaan hutan saat ini bukan
hanya ditujukan agar hutan memberikan nilai guna langsung kepada banyak pihak
namun pengelolaan hutan perlu melihat dan mempertimbangkan nilai lain dalam
pengelolaannya. Langkah pertama untuk mewujudkan azas kelestarian hutan adalah
pembentukan organisasi wilayah untuk mewadahi kegiatan pembangunan hutan,
mengatur administrasi pekerjaan, dan melaksanakan seluruh aktifitas pengelolaan
hutan secara efektif dan efisien (Heyadi et
al., 2018).
Pertumbuhan
ekonomi merupakan indikator penting dalam mewujudkan stabilitas negara.
Pertumbuhan ekonomi yang positif menjadi pertanda pengelolaan negara yang baik.
Salah satu faktor penting yang menyumbangkan nilai positif dalam pertumbuhan
ekonomi adalah kegiatan ekspor. Secara definisi, ekspor adalah kegiatan
memperdagangkan produk dari suatu negara ke negara lain melewati batas wilayah
kepabeanan dengan tujuan mendapatkan devisa yang dibutuhkan negara, menciptakan
lapangan kerja, mendapatkan pemasukan bea keluar dan masuk, pajak, serta
menjaga keseimbangan antara arus barang dan arus uang keluar yang beredar di
dalam negeri (Fitriandi et al.,
2020).
Sesungguhnya,
kehadiran hutan tanaman yang diusahakan di Negara Indonesia secara komersiil
dan untuk memenuhi kebutuhan industri sudah sangat lama terjadi di Indonesia.
Namun hutan tersebut belum disebut sebagai HTI. Hutan tanaman yang berada di
Pulau Jawa yang dikelola oleh Perum Perhutani sesungguhnyalah merupakan wujud
nyata dari HTI. Hutan jati diperkirakan sudah ditanam di Pulau Jawa sebelum
orang Belanda datang di Pulau Jawa, tetapi hutan tanaman jati yang dikelola
dalam suatu unit berskala besar seperti terlihat sekarang ini diperkirakan
dimulai sekitar awal abad 19 (Soedomo dan Hariadi, 2011).
Peningkatan
jumlah penduduk menyebabkan terjadinya peningkatan industri yang diikuti dengan
peningkatan kebutuhan energi. Pada masa sekarang, sebagian besar bahan bakar
yang digunakan adalah fosil yang jumlahnya semakin lama semakin menipis. Oleh
karena itu diperlukan terobosan untuk mendapatkan bahan baku energi yang dapat
diperbaharui dan mudah dimanfaatkan serta mampu memenuhi kebutuhan hidup
khalayak luas. Salah satu terobosan tersebut adalah bahan baku terbarukan dari
pohon, berupa kayu energi dari tanaman Kaliandra (Caliandra callothyrsus) yang dapat menghasilkan bahan baku energi
secara cepat dan berkualitas terutama untuk produksi pellet (Hendrati dan Nur,
2014).
Perebutan lahan karena berbagai
kepentingan dan menipisnya hutan terutama di Jawa telah mempengaruhi kemudahan
dalam memenuhi kebutuhan sumber bahan bakar dari kayu bagi masyarakat. Hal itu
diperkuat dengan kenyataan masih minimnya industri arang atau kayu bakar yang
memunyai lahan sendiri untuk penyediaan sumber kayunya. Selama ini industri
tersebut sebagian besar masih tergantung pada pasokan kayu dari masyarakat yang
tidak menentu. Oleh karena itu perlu dilakukan intensifikasi untuk meningkatkan
produksi pada lahan yang terbatas. Salah satunya dengan menghasilkan tanaman
unggul yang cocok ditanam di lahan-lahan masyarakat maupun di lahan yang kurang
produktif. Tanaman ini yang memiliki sifat cepat tumbuh dan mudah hidup
diharapkan mampu menghasilkan kayu energi yang berkualitas (Trisnadewi, 2015).
1.2
Rumusan Masalah
1.Bagaimana klasifikasi dan habitus pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus)?
2.Apa saja manfaat dari jenis tanaman kaliandra?
3.Bagaimana budidaya pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus) yang berpotensi
sebagai kayu energy?
4.Bagaimana potensi pohon kaliandra (Calliandra calotyirsus) dalam usaha pellet
kayu di Indonesia?
1.3
Tujuan Penulisan
1.Untuk mengetahui klasifikasi dan habitus pohon
kaliandra
(Calliandra calothyrsus).
2.Untuk mengetahui manfaat dari jenis tanaman kaliandra.
3.Untuk mengetahui upaya budidaya pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus) yang berpotensi
sebagai kayu energy.
4.Untuk mengetahui identifikasi potensi pohon kaliandra
(Calliandra calothyrsus) dalam usaha
pellet kayu di Indonesia.
BAB II
ISI
2.1
Klasifikasi dan Habitus Pohon Kaliandra (Calliandra
calothyrsus)
Setiap tumbuhan dikelompokkan dengan tumbuhan lain karena
mempunyai ciri-ciri yang sama. Salah satunya adalah ciri morfologi. Tanaman
kaliandra kekerabatan dekatnya dapat dilihat pada bagian genus, famili, dan
kelas. Berikut adalah klasifikasi ilmiah dari tanaman kaliandra.
Kingdom :
Plantae
Divisi :
Spermatophyta
Subdivis :
Angiospermae
Kelas :
Dicotiledoneae
Subkelas :
Dialypetalae
Ordo :
Rosales
Famili :
Mimosaceae
Genus :
Calliandra
Spesies :
Calliandra calothyrsus
Jenis kaliandra
merupakan spesies terbaik dibandingkan spesies-spesies lain. Produksi biomassa
kaliandra cukup tinggi terutama diareal dengan ketinggian >800m, sehingga
memungkinkan optimasi penggunaan lahan-lahan di daerah tinggi yang tidak datar
termasuk di lereng-lereng bukit. Namun demikian kaliandra juga mampu tumbuh
dengan baik di dataran rendah ketinggian 150 m di atas permukaan laut (dpl). Tanaman
Kaliandra mulai diintroduksikan dari Amerika Tengah ke Indonesia pada akhir
tahun 1936. Di Indonesia Kaliandra tumbuh dengan baik dan menunjukkan tampilan
yang bagus sehingga jenis ini kemudian banyak ditanam pada tahun 70-an mencapai
30.000 ha. Tanaman kaliandra yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah
jenis
Calliandra calothyrsus yang berbunga
merah, yang bisa tumbuh sampai 4-6 meter. Kaliandra disebut tanaman pionir
karena kemampuannya untuk hidup pada berbagai jenis tanah. Kaliandra juga
sering dikenal sebagai tanaman perintis.
C. calothyrsus tumbuh alami di sepanjang
bantaran sungai, tetapi dengan cepat akan menempati areal yang vegetasinya
terganggu misalnya, tepi-tepi jalan. Jenis Kaliandra tidak tahan naungan dan
cepat sekali kalah bersaing dengan vegetasi sekunder lain. Kaliandra terutama
terdapat di daerah yang curah hujannya berkisar antara 1000- 4000 mm, meskipun
populasi tertentu terdapat di daerah yang curah hujan tahunannya rendah hanya
800 mm. Jenis Kaliandra terutama terdapat di daerah yang musim kemaraunya
berlangsung selama 2-4 bulan (dengan curah hujan kurang dari 50 mm per bulan),
namun pernah ada juga spesimen yang ditemukan di daerah yang musim kemaraunya
mencapai 6 bulan. Kaliandra tumbuh di daerah dengan suhu minimum tahunan 18-22°
C dan tidak tahan terhadap pembekuan.
Di tempat tumbuh
aslinya, jenis Kaliandra hidup pada berbagai tipe tanah dan tampaknya tahan
terhadap tanah yang agak masam dengan ph sekitar 4,5, namun tidak tahan
terhadap tanah yang drainasenya buruk dan yang tergenang secara teratur. Di
Jawa, pertanamannya umumnya dijumpai pada ketinggian >250m, namun terbaik
pada ketinggian >800m sampai 1700m dpl. Kaliandra merupakan jenis agresif
sebagai tanaman sekunder, dan tumbuh diberbagai tipe tanah dari tanah vulkanik
dalam, sampai alluvial sampai tanah lempung pasiran yang tererosi.
Sebagai kayu energi yang sering
digunakan terutama di Jawa, jenis C. calothyrsus dapat tumbuh sampai ketinggian
4-12 m dengan diameter sampai 30 cm. Kaliandra untuk produksi kayu energi
sebaiknya ditanam di areal terbuka dengan jarak tanam 1x1 m atau 1x2 m. Kayu
Kaliandra memunyai berat sedang (510-780 kg/m3), kayunya kuat dan mudah
digergaji, mudah sekali kering sehingga menguntungkan karena mengurangi biaya
pengeringan jika akan digunakan untuk suplai bahan baku energi pelet. Panjang
seratnya 0.66-0.84 mm dan memunyai karakter kayu berkualitas energi yang bagus.
2.2
Manfaat dari Jenis Tanaman Kaliandra
C. calothyrsus memiliki banyak kegunaan
yaitu untuk kayu energi, pakan ternak, pengontrol erosi, perbaikan tanah karena
kemampuannya mengikat nitrogen dan memproduksi serasah, penahan api, serta
bunganya yang bagus juga menyebabkan jenis ini ditanam sebagai penghias jalan
dan sumber nektar bagi lebah. Pohon yang ditanam di lereng bukit sepanjang
garis kontur dapat menahan tanah dan akhirnya membentuk teras alami. C. calothyrsus juga telah digunakan
untuk merehabilitasi tanah masam yang tidak produktif dan ditumbuhi alang-alang
(Imperata cylindrica).
C. calothyrsus untuk kayu bakar sudah
ditanam di lahan-lahan pribadi dan milik umum di Jawa. Kayunya yang
berkerapatan tinggi dengan berat jenis 0.5 - 0.8 membuatnya cepat kering dan
mudah dibakar, dapat menghasilkan energi yang memenuhi syarat komersial yakni
sekitar 4600 kkal per kg kayu kering dan 7200 kkal panas per kg arang. Untuk
merangsang tunas baru, pohon sebaiknya dipangkas setinggi 30 - 50 cm pada akhir
musim kemarau, agar pada musim penghujan trubusan sudah mulai muncul. Tanaman
Kaliandra dapat membentuk trubus dengan cepat setelah dipangkas, dan dengan
pemangkasan tiap tahun pada cabang diameter 3-5 cm, tanaman dapat bertahan
hidup sampai bertahun-tahun.
Hasil kayu bakar per
tahun berkisar 5-20 m3/ha dari kebun yang berumur satu tahun dan meningkat
menjadi 30-65 m3/ha dari kebun yang berumur 20 tahun. Penggunaan bibit unggul
dan aplikasi sistem silvikultur diharapkan akan mendapatkan produk 653/ha/tahun
dalam waktu yang relatif lebih awal 2-3 tahun. Agar memeroleh produksi biomassa
yang maksimum, Kaliandra bisa ditanam dengan kerapatan 5000 pohon/ ha (jarak
tanam 1x2m ) dan dipangkas setinggi 1 m di atas permukaan tanah secara berulang
setiap empat bulan sampai 1,5 tahun tergantung kesuburan, perawatan dan
banyaknya curah hujan.
C. calothyrsus juga sangat baik untuk
meningkatkan kesuburan tanah masam dengan ditanam pada jarak 1 x 1m (10.000
pohon/ha). Pengelolaan Kaliandra dengan sistem bera bergilir dapat meningkatkan
hasil tanaman pangan berikutnya 1,5–2 kali dibandingkan dengan hasil panen
setelah diberakan secara alami dalam jangka waktu yang sama. Pohon ini ditebang
di permukaan tanah selama musim tanam untuk tanaman pangan dan dibiarkan tumbuh
selama masa bera. Hasil awal dari percobaan yang dilakukan di Vietnam
menunjukkan bahwa dengan mengganti bera alami dengan C. calothyrsus, masa bera dapat diperpendek dari 10–15 tahun
menjadi 4–5 tahun tanpa mengurangi kesuburan tanah. Dalam sistem bera yang
telah ditingkatkan, petani menanam C.
calothyrsus sebanyak 5000-10.000 semai/ha selama rotasi tanaman pangan yang
terakhir. Kaliandra juga digunakan untuk mengubah padang alang-alang menjadi
sitem silvopastur. Jarak tanam yang direkomendasikan adalah 5 x 5m.
2.3 Upaya Budidaya Kaliandra
(Calliandra calothyrsus) yang Berpotensi sebagai Kayu Energi
Pohon Kaliandra dapat
dikembangkan secara vegetatif maupun generatif. Secara generatif pohon
Kaliandra dapat dikembangkan dengan menggunakan bijinya yang dapat diperoleh
mulai tanaman umur 2 tahun. Keberhasilan pembudidayaan Kaliandra ini secara
umum tergantung dari faktor benih (unggul vs belum dimuliakan), lahan untuk
menanam (ketinggian, curah hujan, kesuburan dll), teknis penanaman
(pemeliharaan, campuran vs monokultur dll.) dan penanamannya (waktu tanam,
jarak tanam, pupuk dasar dll).
Biji dihasilkan pada
tahun pertama pertumbuhannya, tetapi tidak semua pohon menghasilkan biji secara
bersamaan. Sedikitnya 100 g biji per pohon (250-300 polong atau 1700 benih)
dapat dihasilkan setiap musim namun jumlahnya bervariasi sesuai umur, ukuran
pohon, dan lokasi serta kesediaan hewan penyerbuk. Di luar sebaran alaminya,
produksi benih sangat bervariasi. Perkecambahan biji Kaliandra akan cepat
terjadi dengan memberi perlakuan pada biji yaitu biji dsiram air panas kemudian
didiamkan selama semalam sebelum ditaburkan. Media tabur yang digunakan berupa
pasir. Biji akan mulai berkecambah 2 minggu sampai 1 bulan setelah penaburan.
Saat terbaik memindah kecambah ke polybag adalah segera setelah biji tumbuh dan
mengeluarkan daun pertama. Semai tanaman Kaliandra biasanya siap ditanam di
lapangan setelah 2-3 bulan dalam polybag. Ketinggian semainya sudah mencapai
30-50 cm.
Penanaman dilakukan
sesuai dengan tujuan utama Kaliandra dalam kegiatan ini yakni sebagai pohon
energi. Penanaman untuk tujuan kayu energi disarankan ditanam pada jarak 1x1
atau 1x2 m. Penanaman dilakukan dengan membuat lobang 30X30X30cm yang telah
diberi pupuk kandang 1-2 kg. Pada tahun pertama penanaman, akar masih belum
berkembang sempurna, tanaman masih perlu pengawasan terutama pada musim
kemarau. Oleh karenanya pada penanaman di daerah yang curah hujannya rendah
atau penurunan dari 95% (umur 4 bulan) menjadi 83% (umur 8 bulan), meskipun
pada kurun waktu tersebut pertumbuhannya cukup signifikan dengan tinggi dan
diameter yang hampir 2 kali lipat. Pada daerah curah hujan sedang >2000mm/th
pemberian mulsa daun atau plastik tidak perlu dilakukan.
Pemotongan pohon
Kaliandra dapat dilakukan setelah 1 tahun tumbuh menjelang musim penghujan pada
ketinggian 50 cm dengan harapan trubusannya akan muncul saat musim hujan tiba.
Cabang-cabang trubusan ini yang nantinya pada 1-1.5 tahun kedepan akan dimanfaatkan
untuk suplai kayu energi. Pemanenan ini akan dapat diulang 6-10 kali sampai
umur 10-15 tahun tanpa harus menanam ulang tanaman induknya. C. calothyrsus dapat beradaptasi pada
berbagai lingkungan. Meskipun demikian, bila menanam jenis ini, penting untuk
menggunakan sumber benih yang telah diketahui dapat tumbuh baik di lingkungan
yang meyerupai lokasi penanaman. Pengenalan sumber benih yang baik untuk suatu
lokasi penanaman, akan selalu menghasilkan peningkatan daya tahan, pertumbuhan
dan produktifitas tanaman.
Kaliandra dapat
dibudidayakan dengan cara vegetatif secara sangat cepat dan mudah yaitu dengan
cara cangkok. Pencangkokan bermanfaat untuk mempertahankan karakter unggul dari
pohon induknya yang ditanam di lapangan.
Penggunaan
bibit unggul dipastikan akan meningkatkan produktifitas. Pemilihan individu
dengan volume pertumbuhan yang tinggi juga menguntungkan karena individu yang
mempunyai diameter yang lebih besar menunjukkan kualitas kayu bakar yang lebih
baik yang disebabkan karena kekerasannya, nilai kalornya dan kandungan
ligninnya 33%. Kandungan lignin ini akan membantu perekatan yang lebih sempurna
dalam produksi kayu energi dalam bentuk pelet. Sehingga akan mengurangi biaya
pemberian bahan yang diperlukan untuk perekatan.
2.4 Identifikasi
Potensi Pohon Kaliandra (Calliandra Calothyrsus)
dalam Usaha Pellet Kayu di Indonesia.
Wood
pellet dikenalkan kepada masyarakat dengan tujuan memberikan
informasi mengenai alternatif pemanfaatan kayu kaliandra. Masyarakat Dusun memanfaatkan
ranting dan dahan kaliandra sebagai kayu bakar dan sebagian dijual dengan harga
Rp 10.000,- per ikat bila dijual di Dusun Keceme dan Rp 15.000,- per ikat bila
dijual di Kecamatan Borobudur Magelang. Pengenalan wood pellet dari berbagai
bahan baku menarik perhatian masyarakat. Praktek penggunaan kompor pellet kayu merupakan
salah satu sumber energi yang diharapkan dapat menggantikan sumber bahan bakar
minyak, namun apabila kayu langsung dijadikan sebagai bahan bakar mempunyai
sifat-sifat yang kurang menguntungkan, antara lain kadar air yang tinggi,
banyak mengeluarkan asap, banyak abu, dan nilai kalornya rendah.
Keunggulan produk pelet
kayu lainnya adalah mudah dalam pengepakan dan pengangkutan. Peluang permintaan
pelet kayu ini dimungkinkan karena bahan bakar yang tidak terbarukan (minyak
tanah,gas) saat ini harganya terus meningkat dan terkadang sulit didapat di
pasar. Kelemahan dari pelet kayu adalah belum dikenal oleh masyarakat khususnya
para Industri Kecil Menegah (IKM). Sementara itu dari pelet kayu adalah dari
sisi harga harus bersaing dengan bahan bakar yang tidak terbarukan. Penggunaan
kompor pellet dikenalkan kepada masyarakat dengan harapan memberikan informasi
dan pengetahuan peluang penghematan bahan bakar dengan menggubakan pellet kayu.
Pelet kayu 5 kg pellet setara dengan 3 kg gas (“tabung melon”), sedangkan harga
pellet kayu sekitar Rp 2.000,- per kg. Kompor pellet diharapkan mampu mensubstitusi
ketergantungan masyarakat Keceme terhadap energi fosil (minyak dan gas).
Tanaman Kaliandra
sendiri merupakan tanaman perdu yang mempunyai batang berkayu, bertajuk lebat,
dapat mencapai tinggi hingga 45 meter dan mempunyai perakaran yang dalam hingga
1,5 meter sampai 2 meter. Jenis ini tanaman ini mampu tumbuh di semua jenis
tanah, tahan pangkasan, cepat bersemi dan lebat. Sistem perakaran tanaman
Kaliandra dapat membentuk bintil akar, bintil akar ini dapat menyerap nitrogen
dan menjadikan tanah subur. Kayunya juga bisa digunakan untuk kayu bakar, namun
uniknya tidak mengeluarkan asap saat dibakar. Yang terpenting, kayu Kaliandra
memiliki berat jenis antara 0,5—0,8 dan dapat menghasilkan panas sebanyak 4200
kkal/kilogram sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pelet kayu.
Pelet kayu adalah bahan
bakar berbasis biomassa yang lebih ramah lingkungan dari batu bara. Kaliandra
sangat pas menjadi bahan pelet kayu. "Jadi masyarakat dapat menjadikan
tanaman Kaliandra ini sebagai pundi-pundi uang," katanya. Salah satu jenis
Kaliandra yang paling di kenal adalah jenis Kaliandra bunga merah (calliandra calothyrsus).
Tanaman Kaliandra dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki tanah dan di tanam di
lereng yang curam sebagai penahan erosi. Dinas Kehutanan Sumbar mendorong
masyarakat untuk memanfaatkan tanaman Kaliandra itu sebagai lumbung energi.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Kaliandra dapat menjadi alterantif
bahan baku potensial untuk dikembangkan sebagai sumber energi berbasis
biomassa. Beberapa faktor yang mendukung pengembangan komoditas ini adalah 1)
sistem silvikultur yang telah dikuasai baik pembibitan, penanaman, pemeliharaan
serta pemanenan, 2) faktor edafik dan klimatis di Indonesia yang sesuai dengan
habitat, 3) dukungan kebijakan dari pemerintah dan 4) peluang pasar yang masih
terbuka lebar.
3.2
Saran
Sebaiknya dilakukan
beberapa penelitian maupun kajian yang lebih mendalam mengenai komoditas yang
selama ini kurang mendapat perhatian seperti tanaman kaliandra yang berguna
sebagai pellet kayu dan juga diupayakan dapat dikelola dengan baik untuk
merespon perkembangan kebutuhan dan produksi energi nasional dan global.
DAFTAR PUSTAKA
Darmawan
UW. 2012. Pengembangan Kaliandra (Calliandra
Calothyrsus) Sebagai Kayu Energi. Jurnal
Mitra Hutan Tanaman, 7(2): 39-50.
Fitriandi
D, Jangkung HM, Dwidjono HD. 2020. Estimasi Permintaan Ekstrak Jernang (Daemonorops spp.) Di Pasar Ekspor. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 9(1),
75-82.
Heyadi,
Sri J, Syaiful B. 2018. Analisis Perencanaan Bisnis (Business Plan) Usaha
Pengolahan Minyak Kemiri (Studi Kasus di UPT KPH Kulawi Provinsi Sulawesi
Tengah). Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Palu.
Soedomo
S, Hariadi K. 2011. Prospek Industri Hutan Tanaman di Indonesia. Jakarta.
Trisnadewi
AAAS, I GLOC. 2015. Kecernaan In-Vitro Tanaman Kaliandra (Calliandra calothyrsus) Berbunga Merah Dan Putih. Jurnal pasture, 5(1): 39 – 41.
Sidabutar
VTP. 2018. Kajian Peningkatan Potensi Ekspor Pelet Kayu Indonesia sebagai
Sumber Energi Biomassa yang Terbarukan. Jurnal
Ilmu Kehutanan, 12 (18): 99-116.
Prasetyo
E, Wiyono, Puji L, Rochmat H, Silvi NO, Agus N, Prasetyo N. 2017. Penanaman
Kaliandra Sebagai Kayu Energi dan Hijauan Makanan Ternak Pada Pertanaman
Agroforestri Masyarakat Desa Gerbosari, Samigaluh Kulon Progo. Sekolah Vokasi,
Universitas Gadjah Mada.
Hendrati
RL, Nur H. 2014. Budidaya Kaliandra (Calliandra
calothyrsus) Untuk Bahan Baku Sumber Energi. IPB Press: Bogor.

informasinya sangat bermanfaat 👍
BalasHapusTerimakasih sis
HapusHarapannya komoditas Kaliandra ini dapat dimanfaatkan lebih lagi untuk menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi
BalasHapusTerimakasih sarannya sis
HapusTulisan yang sangat bagus dan bermanfaat. Lanjutkan.
BalasHapusTerimakasih for ur support gan
HapusMaksih bg
HapusKeren pohon kalindra😍😍
BalasHapusKaliandra best emg sis
HapusMakasi sis
BalasHapusInformasi dalam tulisan sangat membantu dan penulisannya baik dan menarik.
BalasHapusTerimakasih mimin
HapusIsi tulisannya menarik dan bermanfaat
BalasHapusTerimakasih saudara
HapusMantab sis
BalasHapusTerimakasih saudariku
Hapusmenarik dan sangat bermanfaat 👍👍
BalasHapusMakasi kaka
Hapustulisan yang sangat bermanfaat dan menambah wawasan
BalasHapusMakasi sobat
HapusInformasinya sanagt bermanfaat
BalasHapusMakasi bangda
Hapusmantap x kak
BalasHapusMakasi dinda
HapusMakasi dinda
BalasHapusSya sudah lama sekali mencari artikel ini syukur saya direkomendasikan teman dan sangat menbantu usaha saya, terimakasih
BalasHapusInformatif dan menarik sod
BalasHapus