Senin, 29 Maret 2021

Bisnis Kehutanan Tanamana Kaliandra Sebagai Kayu Energi

 

Makalah Mata kuliah Bisnis Kehutanan                                                                  Medan, 29 Maret 2021

BISNIS POHON KALIANDRA (Calliandra Calothyrsus)
SEBAGAI WOOD PELLET

Dosen Penanggung Jawab:

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh:

Maria Elfani Sitorus

181201073

MNH 6

 

 

 

 

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Bisnis Kehutanan ini dengan baik dan tepat waktu. Penulisan makalah ini ialah sebagai pemenuhan tugas Mata Kuliah Bisnis Kehutanan, di Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Makalah ini ialah berjudul “Bisnis Pohon Kaliandra (Calliandra calothyrsus) sebagai kayu Energi”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab Mata Kuliah Bisnis Kehutanan yaitu Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M. Si. yang telah memberikan materi dengan baik dan benar hingga selesainya penulisan makalah ini.

Penulis juga menyadari bahwa penulisan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan tugas-tugas selanjutnya.

 

 

Medan, 29 Maret 2021

 

 

                                   Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Prinsip pengelolaan hutan terkini adalah meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan dan kelestarian ekosistem. Pengelolaan hutan saat ini bukan hanya ditujukan agar hutan memberikan nilai guna langsung kepada banyak pihak namun pengelolaan hutan perlu melihat dan mempertimbangkan nilai lain dalam pengelolaannya. Langkah pertama untuk mewujudkan azas kelestarian hutan adalah pembentukan organisasi wilayah untuk mewadahi kegiatan pembangunan hutan, mengatur administrasi pekerjaan, dan melaksanakan seluruh aktifitas pengelolaan hutan secara efektif dan efisien (Heyadi et al., 2018).

Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator penting dalam mewujudkan stabilitas negara. Pertumbuhan ekonomi yang positif menjadi pertanda pengelolaan negara yang baik. Salah satu faktor penting yang menyumbangkan nilai positif dalam pertumbuhan ekonomi adalah kegiatan ekspor. Secara definisi, ekspor adalah kegiatan memperdagangkan produk dari suatu negara ke negara lain melewati batas wilayah kepabeanan dengan tujuan mendapatkan devisa yang dibutuhkan negara, menciptakan lapangan kerja, mendapatkan pemasukan bea keluar dan masuk, pajak, serta menjaga keseimbangan antara arus barang dan arus uang keluar yang beredar di dalam negeri (Fitriandi et al., 2020).

Sesungguhnya, kehadiran hutan tanaman yang diusahakan di Negara Indonesia secara komersiil dan untuk memenuhi kebutuhan industri sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Namun hutan tersebut belum disebut sebagai HTI. Hutan tanaman yang berada di Pulau Jawa yang dikelola oleh Perum Perhutani sesungguhnyalah merupakan wujud nyata dari HTI. Hutan jati diperkirakan sudah ditanam di Pulau Jawa sebelum orang Belanda datang di Pulau Jawa, tetapi hutan tanaman jati yang dikelola dalam suatu unit berskala besar seperti terlihat sekarang ini diperkirakan dimulai sekitar awal abad 19 (Soedomo dan Hariadi, 2011).

Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan terjadinya peningkatan industri yang diikuti dengan peningkatan kebutuhan energi. Pada masa sekarang, sebagian besar bahan bakar yang digunakan adalah fosil yang jumlahnya semakin lama semakin menipis. Oleh karena itu diperlukan terobosan untuk mendapatkan bahan baku energi yang dapat diperbaharui dan mudah dimanfaatkan serta mampu memenuhi kebutuhan hidup khalayak luas. Salah satu terobosan tersebut adalah bahan baku terbarukan dari pohon, berupa kayu energi dari tanaman Kaliandra (Caliandra callothyrsus) yang dapat menghasilkan bahan baku energi secara cepat dan berkualitas terutama untuk produksi pellet (Hendrati dan Nur, 2014).

Perebutan lahan karena berbagai kepentingan dan menipisnya hutan terutama di Jawa telah mempengaruhi kemudahan dalam memenuhi kebutuhan sumber bahan bakar dari kayu bagi masyarakat. Hal itu diperkuat dengan kenyataan masih minimnya industri arang atau kayu bakar yang memunyai lahan sendiri untuk penyediaan sumber kayunya. Selama ini industri tersebut sebagian besar masih tergantung pada pasokan kayu dari masyarakat yang tidak menentu. Oleh karena itu perlu dilakukan intensifikasi untuk meningkatkan produksi pada lahan yang terbatas. Salah satunya dengan menghasilkan tanaman unggul yang cocok ditanam di lahan-lahan masyarakat maupun di lahan yang kurang produktif. Tanaman ini yang memiliki sifat cepat tumbuh dan mudah hidup diharapkan mampu menghasilkan kayu energi yang berkualitas (Trisnadewi, 2015).

1.2 Rumusan Masalah

1.Bagaimana klasifikasi dan habitus pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus)?

2.Apa saja manfaat dari jenis tanaman kaliandra?

3.Bagaimana budidaya pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus) yang berpotensi sebagai kayu energy?

4.Bagaimana potensi pohon kaliandra (Calliandra calotyirsus) dalam usaha pellet kayu di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan

1.Untuk mengetahui klasifikasi dan habitus pohon kaliandra
(Calliandra calothyrsus).

2.Untuk mengetahui manfaat dari jenis tanaman kaliandra.

3.Untuk mengetahui upaya budidaya pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus) yang berpotensi sebagai kayu energy.

4.Untuk mengetahui identifikasi potensi pohon kaliandra (Calliandra calothyrsus) dalam usaha pellet kayu di Indonesia.



BAB II

ISI

2.1 Klasifikasi dan Habitus Pohon Kaliandra (Calliandra calothyrsus)

            Setiap tumbuhan dikelompokkan dengan tumbuhan lain karena mempunyai ciri-ciri yang sama. Salah satunya adalah ciri morfologi. Tanaman kaliandra kekerabatan dekatnya dapat dilihat pada bagian genus, famili, dan kelas. Berikut adalah klasifikasi ilmiah dari tanaman kaliandra.

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Subdivis          : Angiospermae

Kelas               : Dicotiledoneae

Subkelas          : Dialypetalae

Ordo                : Rosales

Famili              : Mimosaceae

Genus              : Calliandra

Spesies            : Calliandra calothyrsus

            Jenis kaliandra merupakan spesies terbaik dibandingkan spesies-spesies lain. Produksi biomassa kaliandra cukup tinggi terutama diareal dengan ketinggian >800m, sehingga memungkinkan optimasi penggunaan lahan-lahan di daerah tinggi yang tidak datar termasuk di lereng-lereng bukit. Namun demikian kaliandra juga mampu tumbuh dengan baik di dataran rendah ketinggian 150 m di atas permukaan laut (dpl). Tanaman Kaliandra mulai diintroduksikan dari Amerika Tengah ke Indonesia pada akhir tahun 1936. Di Indonesia Kaliandra tumbuh dengan baik dan menunjukkan tampilan yang bagus sehingga jenis ini kemudian banyak ditanam pada tahun 70-an mencapai 30.000 ha. Tanaman kaliandra yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jenis
Calliandra calothyrsus yang berbunga merah, yang bisa tumbuh sampai 4-6 meter. Kaliandra disebut tanaman pionir karena kemampuannya untuk hidup pada berbagai jenis tanah. Kaliandra juga sering dikenal sebagai tanaman perintis.

            C. calothyrsus tumbuh alami di sepanjang bantaran sungai, tetapi dengan cepat akan menempati areal yang vegetasinya terganggu misalnya, tepi-tepi jalan. Jenis Kaliandra tidak tahan naungan dan cepat sekali kalah bersaing dengan vegetasi sekunder lain. Kaliandra terutama terdapat di daerah yang curah hujannya berkisar antara 1000- 4000 mm, meskipun populasi tertentu terdapat di daerah yang curah hujan tahunannya rendah hanya 800 mm. Jenis Kaliandra terutama terdapat di daerah yang musim kemaraunya berlangsung selama 2-4 bulan (dengan curah hujan kurang dari 50 mm per bulan), namun pernah ada juga spesimen yang ditemukan di daerah yang musim kemaraunya mencapai 6 bulan. Kaliandra tumbuh di daerah dengan suhu minimum tahunan 18-22° C dan tidak tahan terhadap pembekuan.

Di tempat tumbuh aslinya, jenis Kaliandra hidup pada berbagai tipe tanah dan tampaknya tahan terhadap tanah yang agak masam dengan ph sekitar 4,5, namun tidak tahan terhadap tanah yang drainasenya buruk dan yang tergenang secara teratur. Di Jawa, pertanamannya umumnya dijumpai pada ketinggian >250m, namun terbaik pada ketinggian >800m sampai 1700m dpl. Kaliandra merupakan jenis agresif sebagai tanaman sekunder, dan tumbuh diberbagai tipe tanah dari tanah vulkanik dalam, sampai alluvial sampai tanah lempung pasiran yang tererosi.

Sebagai kayu energi yang sering digunakan terutama di Jawa, jenis C. calothyrsus dapat tumbuh sampai ketinggian 4-12 m dengan diameter sampai 30 cm. Kaliandra untuk produksi kayu energi sebaiknya ditanam di areal terbuka dengan jarak tanam 1x1 m atau 1x2 m. Kayu Kaliandra memunyai berat sedang (510-780 kg/m3), kayunya kuat dan mudah digergaji, mudah sekali kering sehingga menguntungkan karena mengurangi biaya pengeringan jika akan digunakan untuk suplai bahan baku energi pelet. Panjang seratnya 0.66-0.84 mm dan memunyai karakter kayu berkualitas energi yang bagus.

2.2 Manfaat dari Jenis Tanaman Kaliandra

            C. calothyrsus memiliki banyak kegunaan yaitu untuk kayu energi, pakan ternak, pengontrol erosi, perbaikan tanah karena kemampuannya mengikat nitrogen dan memproduksi serasah, penahan api, serta bunganya yang bagus juga menyebabkan jenis ini ditanam sebagai penghias jalan dan sumber nektar bagi lebah. Pohon yang ditanam di lereng bukit sepanjang garis kontur dapat menahan tanah dan akhirnya membentuk teras alami. C. calothyrsus juga telah digunakan untuk merehabilitasi tanah masam yang tidak produktif dan ditumbuhi alang-alang (Imperata cylindrica).

            C. calothyrsus untuk kayu bakar sudah ditanam di lahan-lahan pribadi dan milik umum di Jawa. Kayunya yang berkerapatan tinggi dengan berat jenis 0.5 - 0.8 membuatnya cepat kering dan mudah dibakar, dapat menghasilkan energi yang memenuhi syarat komersial yakni sekitar 4600 kkal per kg kayu kering dan 7200 kkal panas per kg arang. Untuk merangsang tunas baru, pohon sebaiknya dipangkas setinggi 30 - 50 cm pada akhir musim kemarau, agar pada musim penghujan trubusan sudah mulai muncul. Tanaman Kaliandra dapat membentuk trubus dengan cepat setelah dipangkas, dan dengan pemangkasan tiap tahun pada cabang diameter 3-5 cm, tanaman dapat bertahan hidup sampai bertahun-tahun.

Hasil kayu bakar per tahun berkisar 5-20 m3/ha dari kebun yang berumur satu tahun dan meningkat menjadi 30-65 m3/ha dari kebun yang berumur 20 tahun. Penggunaan bibit unggul dan aplikasi sistem silvikultur diharapkan akan mendapatkan produk 653/ha/tahun dalam waktu yang relatif lebih awal 2-3 tahun. Agar memeroleh produksi biomassa yang maksimum, Kaliandra bisa ditanam dengan kerapatan 5000 pohon/ ha (jarak tanam 1x2m ) dan dipangkas setinggi 1 m di atas permukaan tanah secara berulang setiap empat bulan sampai 1,5 tahun tergantung kesuburan, perawatan dan banyaknya curah hujan.

            C. calothyrsus juga sangat baik untuk meningkatkan kesuburan tanah masam dengan ditanam pada jarak 1 x 1m (10.000 pohon/ha). Pengelolaan Kaliandra dengan sistem bera bergilir dapat meningkatkan hasil tanaman pangan berikutnya 1,5–2 kali dibandingkan dengan hasil panen setelah diberakan secara alami dalam jangka waktu yang sama. Pohon ini ditebang di permukaan tanah selama musim tanam untuk tanaman pangan dan dibiarkan tumbuh selama masa bera. Hasil awal dari percobaan yang dilakukan di Vietnam menunjukkan bahwa dengan mengganti bera alami dengan C. calothyrsus, masa bera dapat diperpendek dari 10–15 tahun menjadi 4–5 tahun tanpa mengurangi kesuburan tanah. Dalam sistem bera yang telah ditingkatkan, petani menanam C. calothyrsus sebanyak 5000-10.000 semai/ha selama rotasi tanaman pangan yang terakhir. Kaliandra juga digunakan untuk mengubah padang alang-alang menjadi sitem silvopastur. Jarak tanam yang direkomendasikan adalah 5 x 5m.

2.3  Upaya Budidaya Kaliandra (Calliandra calothyrsus) yang Berpotensi sebagai Kayu Energi

Pohon Kaliandra dapat dikembangkan secara vegetatif maupun generatif. Secara generatif pohon Kaliandra dapat dikembangkan dengan menggunakan bijinya yang dapat diperoleh mulai tanaman umur 2 tahun. Keberhasilan pembudidayaan Kaliandra ini secara umum tergantung dari faktor benih (unggul vs belum dimuliakan), lahan untuk menanam (ketinggian, curah hujan, kesuburan dll), teknis penanaman (pemeliharaan, campuran vs monokultur dll.) dan penanamannya (waktu tanam, jarak tanam, pupuk dasar dll).

Biji dihasilkan pada tahun pertama pertumbuhannya, tetapi tidak semua pohon menghasilkan biji secara bersamaan. Sedikitnya 100 g biji per pohon (250-300 polong atau 1700 benih) dapat dihasilkan setiap musim namun jumlahnya bervariasi sesuai umur, ukuran pohon, dan lokasi serta kesediaan hewan penyerbuk. Di luar sebaran alaminya, produksi benih sangat bervariasi. Perkecambahan biji Kaliandra akan cepat terjadi dengan memberi perlakuan pada biji yaitu biji dsiram air panas kemudian didiamkan selama semalam sebelum ditaburkan. Media tabur yang digunakan berupa pasir. Biji akan mulai berkecambah 2 minggu sampai 1 bulan setelah penaburan. Saat terbaik memindah kecambah ke polybag adalah segera setelah biji tumbuh dan mengeluarkan daun pertama. Semai tanaman Kaliandra biasanya siap ditanam di lapangan setelah 2-3 bulan dalam polybag. Ketinggian semainya sudah mencapai 30-50 cm.

Penanaman dilakukan sesuai dengan tujuan utama Kaliandra dalam kegiatan ini yakni sebagai pohon energi. Penanaman untuk tujuan kayu energi disarankan ditanam pada jarak 1x1 atau 1x2 m. Penanaman dilakukan dengan membuat lobang 30X30X30cm yang telah diberi pupuk kandang 1-2 kg. Pada tahun pertama penanaman, akar masih belum berkembang sempurna, tanaman masih perlu pengawasan terutama pada musim kemarau. Oleh karenanya pada penanaman di daerah yang curah hujannya rendah atau penurunan dari 95% (umur 4 bulan) menjadi 83% (umur 8 bulan), meskipun pada kurun waktu tersebut pertumbuhannya cukup signifikan dengan tinggi dan diameter yang hampir 2 kali lipat. Pada daerah curah hujan sedang >2000mm/th pemberian mulsa daun atau plastik tidak perlu dilakukan.

Pemotongan pohon Kaliandra dapat dilakukan setelah 1 tahun tumbuh menjelang musim penghujan pada ketinggian 50 cm dengan harapan trubusannya akan muncul saat musim hujan tiba. Cabang-cabang trubusan ini yang nantinya pada 1-1.5 tahun kedepan akan dimanfaatkan untuk suplai kayu energi. Pemanenan ini akan dapat diulang 6-10 kali sampai umur 10-15 tahun tanpa harus menanam ulang tanaman induknya. C. calothyrsus dapat beradaptasi pada berbagai lingkungan. Meskipun demikian, bila menanam jenis ini, penting untuk menggunakan sumber benih yang telah diketahui dapat tumbuh baik di lingkungan yang meyerupai lokasi penanaman. Pengenalan sumber benih yang baik untuk suatu lokasi penanaman, akan selalu menghasilkan peningkatan daya tahan, pertumbuhan dan produktifitas tanaman.

Kaliandra dapat dibudidayakan dengan cara vegetatif secara sangat cepat dan mudah yaitu dengan cara cangkok. Pencangkokan bermanfaat untuk mempertahankan karakter unggul dari pohon induknya yang ditanam di lapangan.

Penggunaan bibit unggul dipastikan akan meningkatkan produktifitas. Pemilihan individu dengan volume pertumbuhan yang tinggi juga menguntungkan karena individu yang mempunyai diameter yang lebih besar menunjukkan kualitas kayu bakar yang lebih baik yang disebabkan karena kekerasannya, nilai kalornya dan kandungan ligninnya 33%. Kandungan lignin ini akan membantu perekatan yang lebih sempurna dalam produksi kayu energi dalam bentuk pelet. Sehingga akan mengurangi biaya pemberian bahan yang diperlukan untuk perekatan.

2.4  Identifikasi Potensi Pohon Kaliandra (Calliandra Calothyrsus) dalam Usaha Pellet Kayu di Indonesia.

Wood pellet dikenalkan kepada masyarakat dengan tujuan memberikan informasi mengenai alternatif pemanfaatan kayu kaliandra. Masyarakat Dusun memanfaatkan ranting dan dahan kaliandra sebagai kayu bakar dan sebagian dijual dengan harga Rp 10.000,- per ikat bila dijual di Dusun Keceme dan Rp 15.000,- per ikat bila dijual di Kecamatan Borobudur Magelang. Pengenalan wood pellet dari berbagai bahan baku menarik perhatian masyarakat. Praktek penggunaan kompor pellet kayu merupakan salah satu sumber energi yang diharapkan dapat menggantikan sumber bahan bakar minyak, namun apabila kayu langsung dijadikan sebagai bahan bakar mempunyai sifat-sifat yang kurang menguntungkan, antara lain kadar air yang tinggi, banyak mengeluarkan asap, banyak abu, dan nilai kalornya rendah.

Keunggulan produk pelet kayu lainnya adalah mudah dalam pengepakan dan pengangkutan. Peluang permintaan pelet kayu ini dimungkinkan karena bahan bakar yang tidak terbarukan (minyak tanah,gas) saat ini harganya terus meningkat dan terkadang sulit didapat di pasar. Kelemahan dari pelet kayu adalah belum dikenal oleh masyarakat khususnya para Industri Kecil Menegah (IKM). Sementara itu dari pelet kayu adalah dari sisi harga harus bersaing dengan bahan bakar yang tidak terbarukan. Penggunaan kompor pellet dikenalkan kepada masyarakat dengan harapan memberikan informasi dan pengetahuan peluang penghematan bahan bakar dengan menggubakan pellet kayu. Pelet kayu 5 kg pellet setara dengan 3 kg gas (“tabung melon”), sedangkan harga pellet kayu sekitar Rp 2.000,- per kg. Kompor pellet diharapkan mampu mensubstitusi ketergantungan masyarakat Keceme terhadap energi fosil (minyak dan gas).

Tanaman Kaliandra sendiri merupakan tanaman perdu yang mempunyai batang berkayu, bertajuk lebat, dapat mencapai tinggi hingga 45 meter dan mempunyai perakaran yang dalam hingga 1,5 meter sampai 2 meter. Jenis ini tanaman ini mampu tumbuh di semua jenis tanah, tahan pangkasan, cepat bersemi dan lebat. Sistem perakaran tanaman Kaliandra dapat membentuk bintil akar, bintil akar ini dapat menyerap nitrogen dan menjadikan tanah subur. Kayunya juga bisa digunakan untuk kayu bakar, namun uniknya tidak mengeluarkan asap saat dibakar. Yang terpenting, kayu Kaliandra memiliki berat jenis antara 0,5—0,8 dan dapat menghasilkan panas sebanyak 4200 kkal/kilogram sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pelet kayu.

Pelet kayu adalah bahan bakar berbasis biomassa yang lebih ramah lingkungan dari batu bara. Kaliandra sangat pas menjadi bahan pelet kayu. "Jadi masyarakat dapat menjadikan tanaman Kaliandra ini sebagai pundi-pundi uang," katanya. Salah satu jenis Kaliandra yang paling di kenal adalah jenis Kaliandra bunga merah (calliandra calothyrsus). Tanaman Kaliandra dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki tanah dan di tanam di lereng yang curam sebagai penahan erosi. Dinas Kehutanan Sumbar mendorong masyarakat untuk memanfaatkan tanaman Kaliandra itu sebagai lumbung energi.



BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Kaliandra dapat menjadi alterantif bahan baku potensial untuk dikembangkan sebagai sumber energi berbasis biomassa. Beberapa faktor yang mendukung pengembangan komoditas ini adalah 1) sistem silvikultur yang telah dikuasai baik pembibitan, penanaman, pemeliharaan serta pemanenan, 2) faktor edafik dan klimatis di Indonesia yang sesuai dengan habitat, 3) dukungan kebijakan dari pemerintah dan 4) peluang pasar yang masih terbuka lebar.

3.2 Saran

Sebaiknya dilakukan beberapa penelitian maupun kajian yang lebih mendalam mengenai komoditas yang selama ini kurang mendapat perhatian seperti tanaman kaliandra yang berguna sebagai pellet kayu dan juga diupayakan dapat dikelola dengan baik untuk merespon perkembangan kebutuhan dan produksi energi nasional dan global.


DAFTAR PUSTAKA

Darmawan UW. 2012. Pengembangan Kaliandra (Calliandra Calothyrsus) Sebagai Kayu Energi. Jurnal Mitra Hutan Tanaman, 7(2): 39-50.

 

Fitriandi D, Jangkung HM, Dwidjono HD. 2020. Estimasi Permintaan Ekstrak Jernang (Daemonorops spp.) Di Pasar Ekspor. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 9(1), 75-82.

 

Heyadi, Sri J, Syaiful B. 2018. Analisis Perencanaan Bisnis (Business Plan) Usaha Pengolahan Minyak Kemiri (Studi Kasus di UPT KPH Kulawi Provinsi Sulawesi Tengah). Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Palu.

 

Soedomo S, Hariadi K. 2011. Prospek Industri Hutan Tanaman di Indonesia. Jakarta.

 

Trisnadewi AAAS, I GLOC. 2015. Kecernaan In-Vitro Tanaman Kaliandra (Calliandra calothyrsus) Berbunga Merah Dan Putih. Jurnal pasture, 5(1): 39 – 41.

 

Sidabutar VTP. 2018. Kajian Peningkatan Potensi Ekspor Pelet Kayu Indonesia sebagai Sumber Energi Biomassa yang Terbarukan. Jurnal Ilmu Kehutanan, 12 (18): 99-116.

 

Prasetyo E, Wiyono, Puji L, Rochmat H, Silvi NO, Agus N, Prasetyo N. 2017. Penanaman Kaliandra Sebagai Kayu Energi dan Hijauan Makanan Ternak Pada Pertanaman Agroforestri Masyarakat Desa Gerbosari, Samigaluh Kulon Progo. Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada.

 

Hendrati RL, Nur H. 2014. Budidaya Kaliandra (Calliandra calothyrsus) Untuk Bahan Baku Sumber Energi. IPB Press: Bogor.

27 komentar:

  1. informasinya sangat bermanfaat 👍

    BalasHapus
  2. Harapannya komoditas Kaliandra ini dapat dimanfaatkan lebih lagi untuk menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi

    BalasHapus
  3. Tulisan yang sangat bagus dan bermanfaat. Lanjutkan.

    BalasHapus
  4. Informasi dalam tulisan sangat membantu dan penulisannya baik dan menarik.

    BalasHapus
  5. Isi tulisannya menarik dan bermanfaat

    BalasHapus
  6. menarik dan sangat bermanfaat 👍👍

    BalasHapus
  7. tulisan yang sangat bermanfaat dan menambah wawasan

    BalasHapus
  8. Sya sudah lama sekali mencari artikel ini syukur saya direkomendasikan teman dan sangat menbantu usaha saya, terimakasih

    BalasHapus